Wednesday, January 9, 2013

Menjawab Fitnah Wahabi Terhadap Persoalan Sedekah Pahala dan Tahlil Arwah

Ustaz Firanda VS Von Edison Alouisci

A.Dalam Tulisan di al Madinah, 21 Dzul Hijjah 1431 / 27 November 2010 berjudul Syubhat-Syubhat Para Pendokong Bid'ah Hasanah, anda menulis begini :

Awal kutipan :

“......Oleh karena itu tidak kita dapati Imam Asy-Syafii berpendapat dengan suatu bid'ahpun dari bid'ah-bid'ah yang tersebar sekarang ini dengan dalih hal itu adalah bid'ah hasanah. Karena memang maksud beliau dengan bid'ah hasanah bukanlah sebagaimana yang dipahami oleh para pelaku bid'ah zaman sekarang ini.Diantara amalan-amalan yang dianggap bid'ah hasanah yang tersebar di masyarakat namun diingkari Imam As-Syafii adalah :-

“ ACARA MENGIRIM PAHALA BUAT MAYAT YANG DISAJIKAN DALAM BENTUK ACARA TAHLILAN.BAHKAN MASYHUUR DARI MADZHAB IMAM ASY-SYAFII BAHWASANYA BELIAU MEMANDANG TIDAK SAMPAINYA PENGIRIMAN PAHALA BACA QUR'AN BAGI MAYAT.

Imam An-Nawawi berkata:"Dan adapun sholat dan puasa maka madzhab As-Syafi'i dan mayoritas ulama adalah tidak sampainya pahalanya kepada si mayat…adapun qiroah (membaca) Al-Qur'aan maka yang masyhuur dari madzhab As-Syafi'I adalah tidak sampai pahalanya kepada si mayat…" (AL-MINHAAJ SYARH SHAHIH MUSLIM 1/90)- Meninggikan kuburan dan dijadikan sebagai mesjid atau tempat ibadahImam As-Syafi'I berkata :وأكره أن يعظم مخلوق حتى يُجعل قبره مسجداً مخافة الفتنة عليه وعلى من بعده من الناس"Dan aku benci diagungkannya seorang makhluq hingga kuburannya dijadikan mesjid, kawatir fitnah atasnya dan atas orang-orang setelahnya" (AL-MUHADZDZAB 1/140, AL-MAJMUU' SYARHUL MUHADZDZAB 5/280) “ akhir kutipan

BANTAHAN :

Von Edison Alouisci Menjawab :

he Firanda !! ente jika mau menjelaskan perkara sampai atau tidak sampainya pahala pada si mayit harus lengkap ! jgn sepotong sepotong !!

marilah kita kaji lagi penuturan imam Nawawi dalam Al-adzkar halaman 140 : “Dalam hal sampainya bacaan al-qur’an para ulama berbeda pendapat. Pendapat yang masyhur dari madzab Syafei dan sekelompok ulama adalah tidak sampai. Namun menurut Imam ahmad bin Hanbal dan juga Ashab Syafei berpendapat bahwa pahalanya sampai. Maka lebih baik adalah si pembaca menghaturkan doa : “Ya Allah sampaikanlah bacaan yat ini untuk si fulan…….”

Tersebut dalam AL-MAJMU JILID 15/522 : “Berkata Ibnu Nahwi dalam syarah Minhaj: “Dalam Madzab syafei menurut qaul yang masyhur, pahala bacaan tidak sampai. Tapi menurut qaul yang Mukhtar, adalah sampai apabila dimohonkan kepada Allah agar disampaikan pahala bacaan terbut. Dan seyogyanya memantapkan pendapat ini karena dia adalah doa. Maka jika boleh berdoa untuk mayyit dengan sesuatu yang tidak dimiliki oleh si pendoa, maka kebolehan berdoa denagn sesuatu yang dimiliki oleh si pendoa adalah lebih utama”.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam madzab syaf`i terdapat dua qaul dalam hal pahala bacaan :

1. Qaul yang masyhur yakni pahala bacaan tidak sampai jika Tidak berniat
2. Qaul yang mukhtar yakni pahala bacaan sampai.

Dalam menanggapai qaul masyhur tersebut pengarang kitab Fathul wahhab yakni Syaikh Zakaria Al-anshari mengatakan dalam kitabnya Jilid II/19 :

“Apa yang dikatakan sebagai qaul yang masyhur dalam madzab syafii itu dibawa atas pengertian : “Jika alqur’an itu tidak dibaca dihadapan mayyit dan tidak pula meniatkan pahala bacaan untuknya”.
Dan mengenai syarat-syarat sampainya pahala bacaan itu Syaikh Sulaiman al-jamal mengatakan dalam kitabnya Hasiyatul Jamal Jilid IV/67 :

“Berkata syaikh Muhammad Ramli : Sampai pahala bacaan jika terdapat salah satu dari tiga perkara yaitu : 1. Pembacaan dilakukan disamping kuburnya,
2. Berdoa untuk mayyit sesudah bacaan Al-qur’an yakni memohonkan agar pahalanya disampaikan kepadanya,
3. Meniatkan sampainya pahala bacaan itu kepadanya”.

Hal senada juga diungkapkan oleh Syaikh ahmad bin qasim al-ubadi dalam hasyiah Tuhfatul Muhtaj Jilid VII/74 :

 “Kesimpulan Bahwa jika seseorang meniatkan pahala bacaan kepada mayyit atau dia mendoakan sampainya pahala bacaan itu kepada mayyit sesudah membaca Al-qur’an atau dia membaca disamping kuburnya, maka hasilah bagi mayyit itu seumpama pahala bacaannya dan hasil pula pahala agi orang yang membacanya”.

Namun Demikian akan menjadi lebih baik dan lebih terjamin jika ;

1. Pembacaan yang dilakukan dihadapan mayyit diiringi pula dengan meniatkan pahala bacaan itu kepadanya.
2. Pembacaan yang dilakukan bukan dihadapan mayyit agar disamping meniatkan untuk simayyit juga disertai dengan doa penyampaian pahala sesudah selesai membaca.
Langkah seperti ini dijadikan syarat oleh sebagian ulama seperti dalam kitab tuhfah dan syarah Minhaj (lihat kitab I’anatut Tahlibin Jilid III/24).

Allahu … Allah, maka di manakah dinyatakan bahawa dalam “al-Adzkar,” Imam an-Nawawi menyatakan pahala bacaan al-Quran tidak sampai kepada si mati? Ente Jgn berdusta !

Anda jangan memfinah seolah olah Imam Nawawi menyetujui pendapat Imam Syafi`i dalam kitab yang anda sebutkan bahwa tidak sampainya pahala bacaan untuk si mayat. Anda jangan menganggap semudah itu menelaah perkataan imam safii tanpa melihat pendapat ulama lain.ingat pula faktanya Hujjatul Islam Al Imam Nawawi rahimahullah berkata begini :

ع

العلماء وكذا أجمعوا على وصول الدعاءوفي هذا الحديث أن الصدقة عن الميت تنفع الميت ويصله ثوابها وهو كذلك باجما

“Dan dalam hadits ini (hadits riwayat shahih muslim diatas) menjelaskan bahwa shadaqah untuk mayit bermanfaat bagi mayit, dan pahalanya disampaikan pada mayyit, demikian pula menurut Ijma (sepakat) para ulama, dan demikian pula mereka bersepakat atas sampainya doa doa” (Syarh Imam Nawawi ala Shahih Muslim juz 7 hal 90)

Anda sebagai Wahabi berdalil dengan Pandapat Imam Madzab, padahal anti madzab .sementara anda lupa jika muhammad bin shalih al-utsaimin merupakan syaikhul wahhabiyah yang fatwa-fatwanya banyak menjadi rujukan pengikut sekte wahhabiyah andalan anda bernama abu abdillah muhammad bin shalih bin muhammad bin utsaimin al-wahib at-tamimi atau lebih dikenal dengan ibn al-utsaimin. dalam beberapa fatwanya, terdapat pernyataan menarik yang mungkin jarang di publikasikan oleh pengikut wahhabiyah tentang bacaaan al-qur’an untuk orang mati berkata begini : .

وأما القراءة للميت بمعنى أن الإنسان يقرأ و ينوي أن يكون ثوابها للميت، فقد اختلف العلماء رحمهم الله هل ينتفع بذلك أو لا ينتفع؟ على قولين مشهورين الصحيح أنه ينتفع، ولكن الدعاء له أفضل

 “Pembacaan al-qur’an untuk orang mati dengan pengertian bahwa manusia membaca al-qur’an serta meniatkan untuk menjadikan pahalanya bagi orang mati, maka sungguh ulama telah berselisih pendapat mengenai apakah yang demikian itu bermanfaat ataukah tidak ? atas hal ini terdapat dua qaul yang sama-sama masyhur dimana yang shahih adalah bahwa membaca al-qur’an untuk orang mati memberikan manfaat, akan tetapi do’a adalah yang lebih utama (afdlal).”sumber : majmu fatawa wa rasaail [17/220-221] karya muhammad bin shalih al-utsaimin [w. 1421 h]

 Perhatikan, ibn taimiyah dalam kumpulan fatwa-fatwanya berkata: ”bacaan al-qur’an yang akan sampai (bermanfaat bagi mayit) adalah yang dibacakan ikhlas karena allah”. (lihat majmu’ fatawa ibn taimiyah, j. 24, h. 300)

Pada halaman yang sama dia juga berkata: ”barangsiapa membaca al-qur’an ikhlas karena allah lalu ia hadiahkan pahalanya untuk mayit maka hal itu dapat memberikan manfaat baginya”. (lihat majmu’ fatawa ibn taimiyah, j. 24, h. 300).

Pada halaman lainnya dia melanjutkan: “akan sampai kepada mayit bacaan (al-qur’an) dari keluarganya, bacaan tasbih mereka, bacaan takbir mereka, dan seluruh bacaan dzikir mereka jika memang mereka menghadiahkan pahala bacaan tersebut bagi mayit itu. itu semua akan sampai kepadanya”. (majmu’ fatawa ibn taimiyah, j. 24, h. 324).

Di halaman lainnya dia berfatwa begini: “allah tidak menyatakan bahwa seseorang tidak dapat mengambil manfaat kecuali dengan jalan usahanya sendiri. tetapi yang difirmankan oleh-nya adalah:
وَأَن لَّيْسَ لِلإِنسَانِ إِلاَّمَاسَعَى (النجم: 39)

yang dimaksud ayat adalah bahwa seseorang tidak dapat memiliki sesuatu apapun dari suatu kebaikan kecuali hasil usahanya sendiri, adapun yang bukan dari usahanya sendiri maka ia tidak dapat miliki-nya. maka hasil usaha orang lain adalah milik orang itu sendiri, bukan milik siapapun. perumpamaannya pada harta; seseorang hanya dapat memiliki hartanya sendiri, dan ia dapat mengambil manfaat dari harta yang ia miliki tersebut, harta tersebut bukan milik orang lain, harta dia milik dia, harta orang lain milik orang lain. akan tetapi bila seseorang berderma bagi orang lain dengan hartanya tersebut maka tentunya hal itu dibolehkan (dan memberikan manfaat bagi orang lain tersebut). demikian pula bila seseorang berderma bagi orang lain dengan usahanya maka tentu itu juga memberikan manfaat bagi orang lain tersebut; sebagaimana seseorang akan memberikan manfaat bagi orang lain dengan jalan doa baginya, dan atau dengan jalan bersedekah baginya. orang yang dituju (dengan doa atau sedekah) tersebut akan mengambil manfaat, dan akan sampai kepadanya segala kebaikan dari setiap orang muslim; baik orang-orang dari kerabatnya atau lainnya (jika memang ditujukan/dihadiahkan/didermakan baginya), sebagaimana seseorang (mayit) mengambil manfaat dari pekerjaan shalat dari orang-orang yang menshalatkannya, dan atau dari doa mereka baginya di sisi kuburnya”. (majmu’ fatawa ibn taimiyah, j. 24, h. 367)

Ibnu taymiyah katakan sampainya pahala bacaan dzikir/al qur’an yang dihadiahkan.

Tentang hadiah pahala, ibnu taimiyah menegaskan bahwa barangsiapa mengingkari sampainya amalan orang hidup pada orang yang meninggal maka ia termasuk ahli bid’ah. Dalam majmu’ fatawa jilid 24 halaman 306 ia menyatakan, “para imam telah sepakat bahwa mayit bisa mendapat manfaat dari hadiah orang lain. Ini termasuk hal yang pasti diketahui dalam agama islam, dan telah ditunjukkan dengan dalil kitab, sunnah, dan ijma’ (konsensus) ulama’. Barang siapa menentang hal tersebut, maka dia termasuk ahli bid’ah”.

Bukankah faktanya pendapat ulama anda menjelaskan sampainya amalan orang masih hidup pada orang yang sudah mati ?? sekarang saya tanya anda ikut siapa ?? ente mau menganggap sesat ibnu taymiyah ?? ente mau menganggap ibn al-utsaimi sesat ?? .kelihatan anda malah kontradiksi dgn ulama anda sendiri !!

Anda jgn suka memfitnah Ulama menipu masyarakat hanya dengan bahasan sepotong sepotong yang membuat orang salah paham !!

Satu hal lagi terkait bangunan kuburan.. untuk yang ini saya tidak menyalahkan anda jika memang anda anggap benar tapi Anda lihat kuburan ibnu taimiyah ?? Kenapa pada kanyataan ulama anda itu kuburannya tetap tinggi ?? Siapa yang bid`ah ?? beranikah anda meratakan kuburan ibnu taymiyah ?? sebaiknya anda mulai menjadi contoh sebelum mengatakan bid`ah atau syirik atau sejenisnya.!! Satu lagi secara akal sehat..apakah ente yakin jika orang jiarah kubur itu melakukan perbuatan syirik karana ente anggap menyembah kuburan ?? lantas jika ente naik haji menghadap ka`bah apakah ente mau dikatakan syirik hanya karna kabah itu BATU ?? kemana nalar sehat anda ??

Dalam suatu Riwayat para sahabat ternyata melakukan apa yang telah dilakukan Rasulullah. Berikut ini adalah kutipan lengkap hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi:

وَ رَوَى الْبَيْهَقِي فِي الشَّعْبِ، عَنِ الْوَاقِدِي، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَزُوْرُ الشُّهَدَاءَ بِأُحُدٍ فِي كُلِّ حَوْلٍ. وَ إذَا بَلَغَ رَفَعَ صَوْتَهُ فَيَقُوْلُ: سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّار

Al-Baihaqi meriwayatkan dari al-Wakidi mengenai kematian, bahwa Nabi SAW senantiasa berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud setiap tahun. Dan sesampainya di sana beliau mengucapkan salam dengan mengeraskan suaranya, “Salamun alaikum bima shabartum fani’ma uqbad daar” –QS Ar-Ra’d: 24– Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.

Lanjutan riwayat:

ثُمَّ أبُوْ بَكْرٍ كُلَّ حَوْلٍ يَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ. وَ كاَنَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا تَأتِيْهِ وَ تَدْعُوْ. وَ كاَنَ سَعْدُ ابْنِ أبِي وَقَّاصٍ يُسَلِّمُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ يَقْبَلُ عَلَى أصْحَابِهِ، فَيَقُوْلُ ألاَ تُسَلِّمُوْنَ عَلَى قَوْمٍ يَرُدُّوْنَ عَلَيْكُمْ بِالسَّلَامِ

Abu Bakar juga melakukan hal itu setiap tahun, kemudian Umar, lalu Utsman. Fatimah juga pernah berziarah ke bukit Uhud dan berdoa. Saad bin Abi Waqqash mengucapkan salam kepada para syuhada tersebut kemudian ia menghadap kepada para sahabatnya lalu berkata, ”Mengapa kalian tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salam kalian?”
Demikian dalam kitab Syarah Al-Ihya juz 10 pada fasal tentang ziarah kubur.

Dalam Hadits lain Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

(ما من رجل يزور قبر أخيه ويجلس عليه إلا استأنس ورد عليه حتي يقوم)

“tidak seorangpun yang mengunjungi kuburan saudaranya dan duduk kepadanya (untuk mendoakannya) kecuali dia merasa bahagia dan menemaninya hingga dia berdiri meninggalkan kuburan itu.” (hr. Ibnu abu dunya dari aisyah dalam kitab al-qubûr).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

(ما من أحد يمربقبر أخيه المؤمن كان يعرفه في الدنيا فيسلم عليه إلا عَرَفَهُ ورد عليه السلام)

“tidak seorang pun melewati kuburan saudaranya yang mukmin yang dia kenal selama hidup di dunia, lalu orang yang lewat itu mengucapkan salam untuknya, kecuali dia mengetahuinya dan menjawab salamnya itu.” (hadis shahih riwayat ibnu abdul bar dari ibnu abbas di dalam kitab al-istidzkar dan at-tamhid).

apakah anda berani mengatakan Rasulullah Syirik ?? apakah anda berani mengatakan abu bakar itu pelaku syirik ?? apa di masa Rasulullahj kuburan albaqi dan suhada perang uhud rata dengan tanah saat Rasulullah masih hidup seperti sekarang ?? apa anda berani meratakan makam Rasulullah sekarang ?? anda justru insan tidak punya akal sehat !!

B.Dibagian lain pd makalah yang sama anda menulis soal pengkhususan ibadah pada waktu-waktu tertentu atau cara-cara tertentu. Yang jelas maksudnya terkait bid`ah.anda menulis begini :

awal kutipan :

berkata abu syaamah :"imam as-syafi'i berkata : aku benci seseroang berpuasa sebulan penuh sebagaimana berpuasa penuh di bulan ramadhan, demikian juga (aku benci) ia (mengkhususkan-pent) puasa suatu hari dari hari-hari yang lainnya. Hanyalah aku membencinya agar jangan sampai seseorang yang jahil mengikutinya dan menyangka bahwasanya perbuatan tersebut wajib atau merupakan amalan yang baik" (al-baa'its 'alaa inkaar al-bida' wa al-hawaadits hal 48)

perhatikanlah, imam as-syafii membenci amalan tersebut karena ada nilai pengkhususan suatu hari tertentu untuk dikhususkan puasa. Hal ini senada dengan sabda nabi« لاَ تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِى وَلاَ تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الأَيَّامِ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ فِى صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ »"janganlah kalian mengkhususkan malam jum'at dari malam-malam yang lain dengan sholat malam, dan janganlah kalian mengkhususkan hari jum'at dari hari-hari yang lain dengan puasa, kecuali pada puasa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian" (yaitu maksudnya kecuali jika bertepatan dengan puasa nadzar, atau ia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, atau puasa qodho –lihat penjelasan imam an-nawawi dalam al-minhaaj 8/19)

Perhatikanlah, para pembaca yang budiman, puasa adalah ibadah yang disyari'atkan, hanya saja tatkala dikhususkan pada hari-hari tertentu tanpa dalil maka hal ini dibenci oleh imam as-syafi'i.

Maka bagaimana jika imam as-syafii melihat ibadah-ibadah yang asalnya tidak disyari'atkan??!

Apalagi ibadah-ibadah yang tidak disyari'atkan tersebut dikhususkan pada waktu-waktu tertentu??

Akhir kutipan .

BANTAHAN

von edison alouisci menjawab :

Anda pengikut madzab syafi`i ya ?? sejak kapan wahabi bermadzab syafi`i ??

Anda sepertinya memfokuskan imam syafi`i dalam dalil dalil anda yang intinya seakan mahu membenarkan pemhaman anda terkait bid`ah karna merasa pendapat imam safi`i sejalan dengan anda . Padahal sudah menjadi hal umum pengikut madzab mengetahui bahwa imam syafi'i pernah mengatakan,

إذا صح الحديث فهو مذهبي

"jika suaatu hadits shahih maka itulah madzhabku"

dan juga,

إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا ما قلت

" jika kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi sunnah rasulullah shallahu 'alayhi wa sallam, maka berkatalah dengan sunnah rasulullah itu dan tinggalkan perkataanku itu"

Akan tetapi banyak kalangan yang tidak memahami dengan benar perkataan ini. Sehingga, jika yang bersangkutan menemukan sebuah hadits shahih yang bertentangan dengan pendapat madzhab syafi’i maka yang bersangkutan langsung menyatakan bahwa pendapat madzhab itu tidak benar, karena imam syafi’i sendiri mengatakan bahwa hadits shahih adalah madzhab beliau. Atau ketika seseorang menemukan sebuah hadits yang shahih, yang bersangkutan langsung mengklaim, bahwa ini adalah madzhab syafi’i.

 Al-imam nawawi menyebutkan dalam majmu’ syarh al muhadzab, bahwa pendapat beliau tidak keluar dari sunnah, kecuali hanya sebagian kecil. Ini memang terjadi di beberapa masalah, seperti masalah tatswib dalam adzan shubuh (bacaan ashalatu khoirum min annaum), imam syafi’i memakruhkan hal itu dalam qoul jadidnya. Akan tetapi para ulama madzhab syafi’i memilih sunnahnya tatswib, karena hadits shahih mendasari amalan itu.

Akan tetapi tidak bisa sembarang orang mengatakan demikian. Al-imam nawawi menyebutkan beberapa syarat. “Sesungguhnya untuk hal ini, dibutuhkan seseorang yang memiliki tingkatan sebagai mujtahid dalam madzhab yang telah dijelaskan sebelumnya, dan dan ia harus berbaik sangka bahwa Imam Syafi’i belum sampai kepada hadits tersebut, atau belum mengetahui keshahihan hadits itu, dan ini hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang telah menela’ah semua kitab-kitab milik imam syafi’i dan kitab-kitab para sahabat yang mengambil darinya, dan syarat ini sulit, serta sedikit orang yang sampai pada tingkatan ini. Syarat ini kami sebutkan karena, imam syafi’i tidak mengamalkan dhahir hadits yang telah beliau ketahui, akan tetapi ada dalil lain yang mencacatkan hadits itu, atau yang menasakh hadits itu, atau yang mentakhish atau yang menta’wilkan hadits itu.

 Asy-syeikh Abu Amru mengatakan: ”Barang siapa menemui dari syafi’i sebuah hadits yang bertentangan dengan madzhab beliau, jika engkau sudah mencapai derajat mujtahid mutlak, dalam bab, atau maslah itu, maka silahkan mengamalkan hal itu. Akan tetapi jika tidak sampai derajat itu dan mereka yang menentang tidak pula memiliki jawaban yang memuaskan, maka jika itu diamalkan oleh mujtahid madzhab lain, boleh ia melakukan, dan itu adalah sebuah udzur dimana ia meninggalkan salah satu pendapat madzhab imamnya”.

Imam nawawi mengatakan bahwa yang dikatakan syeikh abu amru ini merupakan perkataan yang cukup baik. Apakah anda sudah sudah mencapai derajat mujtahid mutlak sehingga sudah betul betul paham pemahaman Imam Syafi`i ?? saya sendiri jujur saja belum !

Perhatikan lagi . dinukil dari muqadimah al majmu syarh al muhadzab (1/99-100), terbitan dar al fikr 1426 h, tahqiq dr. Mahmud mathraji abu muhammad mengatakan...

" Tidak ada yang menyalahkan madzhab imam syafi'i. Justru dalil di atas membuktikan dan menunjukkan bahwa imam syafi'i mengakui bahwa dirinya tidak ma'sum. Artinya sang imam akan ber madzhab dengan madzhab nabi yang shohih saja, karena setiap manusia pasti ada kekurangannya. Sehingga bila beliau mengatakan "jika suatu telah shahih sebuah hadits maka itulah madzhabku". Jadi jika ada pendapat beliau yang tidak shohih, ikuti yang shohih. Begitu juga dengan qoul qodim dan qoul jadid beliau.jadi, tidak berarti otomatis seluruh pendapat beliau salah kalau beliau sebelum meninggal menggunakan hadits yang dho'if dan lainnya".Disini anda mestimnya paham jika Imam Safi`i pada dasarnya tidak memaksakan pendapatnya.jika bertentngan dgn quran dan sunnah .

Sekarang anda perhatikan soal ibadah waktu waktu tertentu yang anda anggap bid`ah yang menyalahi syariat (itu sebenrnya maksud anda). perhatikan dalam beberapa hadits berikut :

Hadits riwayat Abu Dawud dan Abu Nu’man dalam kitab Al-Hilyah :

Nabi Muhammad Saw. bersabda yang maksudnya : “Barangsiapa mengikhlashkan dirinya kepada Allah (dalam beribadah) selama 40 hari maka akan zhahir sumber-sumber hikmah daripada hati melalui lidahnya”. (HR. Abu Dawud dan Abu Nu’man dalam alhilyah).

Apa caranya mengikhlaskan selama 40 hari ?? bukankah bisa dengan berpuasa secara ikhlas ??
anda perhatikan lagi ini..

- Imam at Tirmidzi meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, ia mengatakan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ

“Barangsiapa yang shalat karena Allah selama 40 hari secara berjama’ah dengan mendapatkan Takbiratul pertama (takbiratul ihramnya imam), maka ditulis untuknya dua kebebasan, yaitu kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari sifat kemunafikan.” (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani (wahabi majnun) di kitab Shahih Al Jami’ II/1089, Al-Silsilah al-Shahihah: IV/629 dan VI/314).

- hadits yang diriwayatkan Imam Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Anas bin Malik radliyallah ‘anhu:

مَنْ وَاظَبَ عَلَى الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَةِ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً لا تَفُوْتُهُ رَكْعَةٌ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا بَرَاءَتَيْنِ، بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاق
ِ
“Siapa yang menekuni (menjaga dengan teratur) shalat-shalat wajib selama 40 malam, tidak pernah tertinggal satu raka’atpun maka Allah akan mencatat untuknya dua kebebasan; yaitu terbebas dari neraka dan terbebas dari kenifakan.” (HR. Al-Baihaqi, Syu’abul Iman, no. 2746)

- Dalam kitab syarah al-hikam
Nabi SAW bersabda :” Barangsiapa Yang Mengamalkan Ilmu Yang Ia Ketahui Maka Allah Akan Memberikan Kepadanya Ilmu Yang Belum Ia Ketahui”.


- Hadits qudsy shahih Riwayat Hakim


Dari Abu Darda Ra. berkata : “Aku mendengar Rasulullah Saw. Bersabada, “Sesungguhnya Allah Swt berfirman kepada Isa As. : “Aku akan mengirimkan satu umat setelahmu (ummat Muhammad Saw.), yang jika Aku murah hati pada mereka, mereka bersyukur dan bertahmid, dan jika Aku menahan diri, mereka sabar dan tawakal tanpa [harus] mempunyai hilm (kemurahan/kemurahan hati) dan ‘ilm (ilmu) .” Isa bertanya: “Bagaimana mereka bisa seperti itu ya Allah, tanpa hilm dan ‘ilm?” Allah menjawab: “Aku memberikan mereka sebagian dari hilmKu dan ‘ilmu-Ku.” [HR. Hakim. Katanya Hadits ini shahih menurut syarat Bukhary, tetapi ia tidak meriwayatkannya, sedangkan Adzahaby menyepakatinya". I/348]

Keterangan : Hadits ini juga terdapat pada Muntakhab hadits SyaikhulHadits Maulana Yusuf, Hadits No. 27, Bab ikhlash dan Juga terdapat pada kitab Ucapan Nabi Isa as dalam kisah-kisah literature umat islam, Tarif Khalidi.

- Dalam hadits qudsy (Kitab Futuh Mishr wa Akhbaruha, Ibn ‘Abd al-Hakam wafat 257 H).
Allah mewahyukan kepada Isa untuk mengirimkan pendakwah ke para raja di dunia. Dia mengirimkan para muridnya. Murid-muridnya yang dikirim ke wilayah yang dekat menyanggupinya, tetapi yang dikirim ke tempat yang jauh berkeberatan untuk pergi dan berkata: “Saya tidak bisa berbicara dalam bahasa dari penduduk yang engkau mengirimkan aku kepadanya.” Isa berkata: “Ya Allah, aku telah memerintahkan murid-muridku apa yang Kau perintahkan, tetapi mereka tidak menurut.” Allah berfirman kepada Isa: “Aku akan mengatasi masalahmu ini.” Maka Allah membuat para murid Isa bisa berbicara dalam bahasa tempat tujuan mereka diutus.

- Dalam hadis qudsi, Nabi Isa as. Juga bersabda:

“Isa As. berkata: “Buat kalian tidak ada gunanya mendapat ilmu yang belum kalian ketahui, selama kalian tidak beramal dengan ilmu yang telah kalian ketahui. Terlalu banyak ilmu hanya menumbuhkan kesombongan kalau kalian tidak beramal sesuai dengannya.” [ Diriwayatkan oleh (Abu 'Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (... – 241 H), Kitab al-Zuhd, 327. Dan (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (... - 505 H), Ihya' 'Ulum al-Din, 1:69-70]

Contoh lain Dalil tahlilan Jumlah Hari 3, 7, 25, 40, 100, 360 (setahun) & 1000 hari dari kitab ahlusunnah

قال النبي صلى الله عليه وسلم الدعاء والصدقة هدية إلى الموتى

وقال عمر : الصدقة بعد الدفنى ثوابها إلى ثلاثة أيام والصدقة فى ثلاثة أيام يبقى ثوابها إلى سبعة أيام والصدقة يوم السابع يبقى ثوابها إلى خمس وعشرين يوما ومن الخمس وعشرين إلى أربعين يوما ومن الأربعين إلى مائة ومن المائة إلى سنة ومن السنة إلى ألف عام

Rasulullah saww bersabda: "Doa dan shodaqoh yg dihadiahkan kepada mayyit."

Berakata Umar : "shodaqoh setelah kematian maka pahalanya sampai tiga hari dan shodaqoh dalam tiga hari akan tetap kekal pahalanya sampai tujuh hari, dan shodaqoh tujuh hari akan kekal pahalanya sampai 25 hari dan dari pahala 25 sampai 40 harinya akan kekal hingga 100 hari dan dari 100 hari akan sampai kepada satu tahun dan dari satu tahun sampailah kekalnya pahala itu hingga 1000 hari."

 Perhati h jumlah-jumlah harinya (3, 7, 25, 40, 100, setahun & 1000 hari) jelas ada dalilnya

 Bukankah hal hal diatas adalah amalan waktu waktu tertentu ?? anda seharusnya lebih spesifik menjelaskan agar tidak keliru mana yang syriatkan mana pula yang tidak.!! Sekali lagi anda jangan sepotong sepotong jika mau mengkaji pemahman imam Safi`i demi melegalkan maksud maksud tersembunyi anda membodohi publik ! uraian anda dalam makalah anda memang lumayan.namun anda hanya mengutip point point tertentu saja yang anda anggap baik dan cocok dgn akal anda.padahal masih byk uraian dan bahasan dari maksud kutipan yang anda ambil.disini jelas anda memfitnah dengan statement anda yang setengah setengah !! Ustadz macam apa anda ini ?? baiklah semoga Anda menikmati hasil fitnahan anda ketika sekaratul maut !!

Ambilan : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=405798586162669&set=a.329950507080811.75288.328999077175954&type=1

3 comments:

  1. mas Von Edison Alouisci, kalau anda copy paste itu jangan setengah-setengah.. anda saja menukil pendapat imam nawawi juga setengah-setengah, hanya sepenggal-sepengal.. coba teliti lagi apa saja yg dikomentari imam nawawi itu perihal masalah mengirim pahala lewat bacaan qur'an untuk mayat.

    ReplyDelete
  2. Mengenai bacaan Qur'an sampai pada mayyit 9 Sunan Abih,bi Daud 3 hal 91 ) Rowahubnu Hibban fi Riyadussholihin. juga bacalah dengan tenang sayangbsekali sariat dibuat mainan dosa besar kawa kalau tidak kufur. tahlilTasbih tahmid semuanya sampai ( Shoheh Muslim 1674 ) ( bacaan kulhuwalloohu ahad ... sampai hadist ini dari Abi Huroiroh,dan diriwayatkan oleh Abu Muhammad al-Samarkandi al-Rofi'i al-Daroquthny, Haulah kashashil qur'an,45 ) ( Imam ahmad bin Hambal 19415 ) Ahad,attakastur,fatihah,dari Abi Huroiroh,diriwayatkan Abu Alkosim,haulah kashashilqur'an 45 ).

    ReplyDelete
  3. Maaf... Ilmu anda terntang agama sangat minim... Jadi kalo nggak ngerti tentang ilmu agama.. Jangan dibahas!!! Nanti bs fatal akibatnya.. Anda dapat menyesatkan ummat... Jangan lantas berdebat hanya krn anda mrngcopy paste dari pendapat orang... Anda tdk mengerti ahlussunnah wal jamaah!!!

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Nota : Aku cumalah menyampaikan sahaja dan barangsiapa tiada merasakan diriku tiada sealiran denganmu maka tinggalkanlah tempat ini serta usah menghidupkan provokasi yang tidak membawa apa-apa kebaikan pun dengan membibitkan komen-komen atau kritikan yang tidak berilmiah lagi membina.